Leena langsung berteriak panik dan penuh kekhawatiran sambil maju selangkah ketika melihat Yan Ruyan menyerang Lynx dengan gerakan mendadak, suara panik terdengar jelas. "Lynx..."

Namun sudah terlambat.

Sikut Dewi Api menghantam dada Lynx dengan gerakan yang terlihat ringan namun mengandung kekuatan surgawi, seolah hanya memberi pelajaran kecil. Tapi detik berikutnya, tubuh Yan Ruyan sendiri yang terpental ke belakang dan menghantam dinding pagoda, menciptakan dentuman berat. Debu halus turun dari langit-langit seiring tubuh sang dewi meluncur jatuh ke lantai, terbatuk pelan dengan wajah pucat.

Leena langsung berlari dan berlutut di samping Yan Ruyan. Tangannya menyentuh bahu wanita itu dengan cemas.

"Dewi, kau tak apa?"

Yan Ruyan bersikap seolah menepis debu dari jubahnya yang tidak mungkin terpapar, sambil menahan napasnya yang belum teratur. Wajahnya kesal, tapi bukan karena rasa sakit, melainkan karena harga dirinya yang terluka.

"Aku hanya menggunakan sedikit kekuatan, hanya ingin memberinya pelajaran ringan," gumamnya pelan sambil mengerucutkan bibir. Ia menoleh menatap Lynx dengan tatapan menilai. "Tapi ternyata yang terpental malah aku sendiri."

Nada suaranya ketus namun ada nada bingung yang samar.

Leena melirik ke arah Lynx yang berdiri dengan wajah datar dan tatapan tenang. Tidak ada satu pun tanda luka di tubuhnya.

Yan Ruyan menarik napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan pikirannya. "Aku lupa, aku hanya wujud roh saat ini. Kekuatan asliku tidak bisa tersalur dengan sempurna untuk melukai tubuh fisik istimewanya."

Lynx segera melangkah maju dengan kepala sedikit menunduk. Nada suaranya lembut dan penuh ketulusan. "Aku minta maaf. Ini semua hanya kesalahpahaman. Aku tidak tahu bahwa anda berada di dalam tubuh Leena atas keinginannya sendiri."

Yan Ruyan menatapnya dalam diam, sebelum akhirnya menghela napas pelan. "Aku mengerti. Lagipula... aku juga tidak bisa menyalahkanmu sepenuhnya." Matanya sedikit menyipit, seperti sedang menimbang sesuatu. 

"Selama aura surgawiku tidak terdeteksi oleh musuh-musuh dari dunia surgawi... aku masih aman. Semoga saja tidak ada yang menyadari energiku saat aku ditarik keluar dari tubuh Leena secara paksa atau mereka semua akan dalam bahaya." Batinnya.

Lynx mengangkat kepalanya. "Leena, aku ingin bertanya, sejak kapan Dewi berada di dalam lautan kesadaranmu?"

Leena yang masih berlutut di samping Yan Ruyan mengangguk pelan. "Sejak aku tiba di dunia ini, saat pertama kali keluar dari portal dimensi. Aku terluka parah waktu itu, terkena badai petir yang merobek lorong dimensi. Kalau saja bukan karena pertolongan Dewi Yan Ruyan yang juga terluka dan berada di tempat yang sama, mungkin aku sudah mati. Dia yang menyelamatkanku dan memberiku sebagian kekuatannya untuk jaga diri. Karena itu aku bisa naik ke ranah master foundation emas dalam waktu tiga tahun."

Lynx menyimak dengan seksama dan mengangguk perlahan, menunjukkan bahwa ia mulai memahami semua koneksi di antara mereka. Tapi tiba-tiba, ekspresinya berubah aneh. Wajahnya mulai memerah. Dalam hati, dia membatin sambil menunduk sedikit.

"Jangan-jangan... berarti dia juga melihat semua yang aku lakukan bersama Leena di ranjang...?"

Leena melihat perubahan ekspresi Lynx dan wajahnya langsung ikut memerah. Ia menunduk dalam-dalam, tak sanggup menatap siapa pun. Pikirannya jelas menangkap arah pikiran Lynx, dan memang... itu benar.

Yan Ruyan tiba-tiba batuk kecil sambil memalingkan wajah, pipinya juga mulai memerah. Ia berdiri lalu membalikkan badan dengan cepat, mencoba menyembunyikan wajahnya yang makin panas.

"Kalian... jangan berpikiran yang aneh-aneh," katanya dengan suara setengah kesal. "Aku sedang bermeditasi waktu itu... jadi aku tidak tahu apa yang kalian perbuat di atas ranjang..."

Ia langsung terdiam. Kalimat itu seperti melempar bom ke tengah ruangan. Kata-katanya sendiri justru jadi bukti bahwa dia memang tahu.

Wajah Lynx makin merah, bahkan telinganya ikut memanas. Leena pun sama, tubuhnya kaku seperti patung, hanya matanya yang bergerak gelisah.

Lynx akhirnya melangkah pelan mendekat ke Leena. Suaranya menurun, nyaris berbisik.

"Kenapa kamu gak menghentikan aku waktu itu? Kalau kamu tahu ada orang lain..."

Leena menoleh pelan, wajahnya merah padam, pandangannya seperti anak kecil yang tertangkap mencuri makanan.

"Aku udah nyuruh kamu berhenti, berkali-kali..." bisiknya pelan sambil mengalihkan pandangan. "Tapi kamu yang terlalu... ganas."

Lynx menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebiasaan lamanya setiap kali dia bingung atau mendapatkan topik canggung. Tangannya terus menggaruk seolah berharap bisa menghapus seluruh kejadian tadi dari kepalanya.

Suasana ruangan mendadak sunyi. Tidak ada satu pun yang berani membuka suara. Hanya terdengar bunyi angin ringan yang berhembus dari pusaran energi pagoda.

Setelah beberapa lama, Lynx berdeham pelan dan mencoba memecah kekakuan. Ia menoleh ke arah Yan Ruyan yang masih berdiri membelakangi mereka.

"Dewi... ehm... kenapa kau menyebut tempat ini sebagai Pagoda Shenyuan?"

Yan Ruyan membalikkan tubuhnya dan berusaha menstabilkan napasnya, lalu dengan cepat menyingkirkan rasa malu yang sempat muncul di wajahnya. Matanya menatap lurus ke arah Lynx dan Leena dengan ekspresi dingin, meskipun rona kemerahan di pipinya belum sepenuhnya hilang.

"Huh, kalian ini benar-benar bodoh, artefak ini namanya memang Pagoda Shenyuan." gumamnya sambil melipat tangan di dada. "Pagoda ini bukan artefak biasa. Ini artefak milik seorang Dewa Kaisar, memiliki banyak kemampuan namun dapat juga digunakan untuk menghukum para makhluk tingkat dewa dengan menyerap energi mereka perlahan selama ribuan tahun. Energi yang diserap itu tidak bisa dipulihkan walaupun mereka sudah dilepaskan, dan pagoda ini dapat dimanfaatkan untuk berlatih dengan menyerap esensi energi hasil dari para tahanan tersebut. Sekali terperangkap, kekuatan spiritual seseorang akan hilang selamanya. Kau hampir saja membuatku celaka tadi."

"Dewa... Kaisar?" Leena berseru kaget. Matanya membesar, seolah baru menyadari betapa berbahayanya tempat ini. "Pagoda ini mampu menahan seseorang di ranah dewa? Sekuat itu artefak ini?"

"Tentu saja," Yan Ruyan menjawab dengan nada tajam. "Untungnya kau sekarang sudah menjadi pemiliknya. Kalau tidak, mungkin aku benar-benar akan hancur karena jiwaku sudah terluka. Aku hanya tahu tentang pagoda ini dari catatan sejarah tua yang pernah kubaca. Kau sangat beruntung mendapatkannya. Pagoda ini tidak ada yang mengetahui jejaknya karena di sembunyikan oleh Dewa Kaisar untuk berlatih para keturunannya. Dewa Kaisar itu sendiri... sudah mati ribuan tahun lalu karena dikhianati oleh orang terdekatnya. Seharusnya jiwanya bisa bereinkarnasi, tapi... yang kudengar, pada saat kematiannya, dia mengorbankan inti jiwanya digunakan untuk menyegel sebuah artefak tanpa nama yang mengandung energi tak terbatas."

Yan Ruyan berhenti sejenak, menatap lantai seakan mengingat sesuatu, lalu melanjutkan dengan suara pelan tapi penuh tekanan.

"Berita yang tersebar, artefak tanpa nama tersebut  mendadak terbang meninggalkan dunia surgawi tanpa di ketahui kemana tujuannya dan tidak ada yang bisa mengejarnya, terhalang formasi. Ada yang mengatakan artefak tanpa nama itu menuju ke arah pagoda Shenyuan untuk di segel, karena Dewa Kaisar tersebut pernah mengutarakan rencananya untuk memberikan kekuatan baru di pagoda ini. Sejak itu, pagoda ini menjadi incaran banyak pihak namun tidak ada satupun yang mendapatkan petunjuk. kedua artefak ini menghilang tanpa jejak."

Lynx mengerutkan alis. "Tunggu sebentar, Dewi. Sejak kapan aku jadi pemilik pagoda ini? Aku bahkan tidak pernah membuat kontrak segel apapun dengannya. Dan... di mana sekarang artefak yang kau sebut itu?"

Yan Ruyan mendengus sambil mengetuk kening Lynx dengan jari telunjuknya. "Dasar bodoh. Kau pikir pagoda ini artefak biasa? Benda ini punya kehendaknya sendiri. Dia akan memilih pemiliknya berdasarkan kehendak spiritualnya sendiri. Kalau dia sudah mengakui seseorang, maka selama-lamanya orang itu akan menjadi pemiliknya. Tak peduli kau sadar atau tidak, kau sudah diakui. Itu sebabnya kau bisa mengendalikan rantai jiwa pagoda ini."

Lynx dan Leena sama-sama saling pandang, ekspresi mereka berubah. Mata Lynx sedikit membelalak dan tampak seperti baru saja menyadari bahwa dirinya tengah duduk di atas sesuatu yang sangat berbahaya sekaligus berharga.

"Awalnya kami mengira pagoda ini cuma alat bantu latihan spiritual biasa untuk meningkatkan kekuatan batin, ternyata ada rahasia sebesar itu di Pagoda Qingling" gumam Lynx.

"Luka dalam tubuhku masih belum pulih sepenuhnya, ditambah kejadian ini membuat jiwaku terluka lagi." kata Yan Ruyan sambil memejamkan mata. "Aku butuh meditasi dalam waktu cukup lama untuk benar-benar pulih. Dan menurutku... pagoda Shenyuan ini tempat yang sangat cocok untuk bersembunyi karena dapat menyembunyikan aura dan menyembuhkan kekuatanku, tentu jika kalian mengizinkan."

Dia membuka sebelah matanya dan menoleh ke arah Lynx dan Leena sambil menyeringai kecil, mencoba menahan tawa.

"Atau... kalian lebih suka aku kembali ke dalam lautan kesadaran Leena dan... melihat kalian lagi... hmm... hmm..."

Nada suaranya menggoda, tapi wajahnya kembali memerah tanpa bisa ia cegah. Leena memalingkan wajah, menahan napas dengan pipi merah membara. Lynx hampir tersedak sendiri, buru-buru mengangkat tangan.

"Tidak, Dewi. Silakan. Kau boleh tinggal di sini."

Yan Ruyan tersenyum kecil, puas dengan jawaban itu. "Terima kasih, Lynx. Aku tidak tahu terlalu banyak tentang pagoda ini, tapi seingatku, pemiliknya bisa memperluas ruang internalnya, bahkan menciptakan berbagai struktur baru di dalamnya. Mungkin kau bisa mencobanya. Atau coba saja berkomunikasi langsung dengan pagoda ini. Itu cara terbaik untuk benar-benar memahaminya."

"Komunikasi?" Lynx mengerutkan dahi. "Apa benda seperti ini bisa diajak bicara?"

Yan Ruyan menoleh dengan cepat dan mengetuk lagi kepala Lynx. "Kamu ini benar-benar bodoh. Ini artefak suci tingkat surgawi. Tentu saja ada rohnya. Tapi kau harus meningkatkan ranahmu dulu sebelum bisa berbicara dengannya."

"Dewi, jika memang artefak tanpa nama itu berada didalam pagoda, dimana artefak tersebut berada sekarang?" tanya Leena dengan penasaran sambil melihat sekitarnya.

"Kekuatan artefak itu sangat tidak terbatas, bahkan benda yang bersentuhan dengannya pun akan mendapatkan kekuatan dari pancaran energinya. Kurasa artefak itu tidak berada ditempat ini, karena aku tidak bisa merasakan kekuatan yang istimewa disini selain kepadatan qi spiritual." Yan Ruyan lalu duduk bersila dan menutup matanya. "Sekarang pergilah. Aku perlu fokus memulihkan kekuatanku."

Sebelum menutup kesadarannya sepenuhnya, ia berkata pelan, namun nada suaranya berubah lebih serius. "Aku harap kalian bisa menjaga rahasia keberadaanku. Dan jagalah baik-baik pagoda Shenyuan ini. Jika orang-orang dari dunia surgawi mengetahui tentang ini... dunia ini akan berada dalam bahaya. Karena mereka melakukan segala cara untuk mendapatkan kekuatan mutlak yang ada di artefak tersebut."

"Baik, Dewi," jawab Lynx dan Leena serempak.

Tanpa berkata lebih banyak, mereka berdua melangkah menuju lantai pertama, lalu dalam sekejap, tubuh mereka menghilang dalam cahaya, meninggalkan pagoda dan Yan Ruyan yang mulai bermeditasi di lantai ketiga pagoda Shenyuan.

Setelah keluar dari pagoda, Lynx dan Leena saling bertatapan. Dalam hati mereka berkata,"Artefak tanpa nama... mungkinkah batu meteor itu yang dimaksudkan dewi."

